**Saharakaltim.com, Samarinda –** Warga Kelurahan Selili dan Sambutan kembali menyuarakan persoalan banjir yang kerap terjadi saat hujan deras. Dalam reses Anggota DPRD Kota Samarinda, Suparno, masyarakat meminta perhatian terhadap saluran air yang dinilai belum mampu mengatasi luapan air di kawasan permukiman.
Madi, warga Selili RT 23, mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggalnya relatif aman ketika hujan jarang turun. Namun, kondisi berubah saat hujan deras menyebabkan air meluap dan masuk ke permukiman.
“Sekarang memang masih aman karena kemarau. Tapi kalau hujan, air selalu meluber dan membuat banjir,” ujar Madi, Selasa (6/10/2026).
Menanggapi keluhan tersebut, Suparno menyebut pembenahan drainase telah dilakukan di sejumlah ruas jalan utama. Meski begitu, saluran di jalan lingkungan, khususnya gang-gang permukiman, masih membutuhkan penanganan bertahap.
“Yang di gang-gang belum. Masih bertahap. Mudahan tahun depan bisa direalisasikan,” katanya.
Menurut Suparno, upaya memperbaiki drainase di lingkungan permukiman menghadapi tantangan tersendiri karena sebagian jalan memiliki lebar terbatas. Jika pembangunan saluran dilakukan dengan mengambil ruang badan jalan, akses warga justru dapat semakin menyempit.
Karena itu, ia menilai perencanaan teknis perlu mempertimbangkan kebutuhan drainase sekaligus mempertahankan aksesibilitas jalan lingkungan.
### Penanganan Banjir Perlu Melihat Aliran Air Secara Utuh
Suparno juga menyoroti hubungan aliran air dari kawasan Sambutan menuju Selili hingga bermuara ke Sungai Mahakam. Menurutnya, persoalan banjir perlu ditangani dengan mempertimbangkan kondisi saluran, anak sungai, dan perkembangan permukiman di sepanjang jalur tersebut.
Sejumlah anak sungai di kawasan itu memiliki alur berkelok, sementara sebagian ruang di sekitarnya telah dimanfaatkan untuk bangunan rumah. Kondisi ini dinilai perlu menjadi bagian dari kajian untuk memastikan aliran air tetap berfungsi dengan baik saat volume air meningkat.
Politikus yang menjabat Ketua DPD PAN Samarinda itu mendorong adanya pembahasan bersama Pemerintah Kota Samarinda agar penanganan tidak hanya dilakukan secara parsial pada saluran tertentu.
Salah satu gagasan yang disampaikannya adalah mengkaji pembangunan folder atau kolam retensi. Fasilitas tersebut berpotensi menampung sementara limpasan air sebelum dialirkan ke sungai, sehingga dapat menjadi bagian dari upaya pengendalian banjir.
“Mulai dari depan SPBU di Sambutan sampai Sungai Mahakam melewati daerah Selili. Jadi ini perlu kita lihat secara menyeluruh, termasuk kemungkinan membuat folder untuk menahan air sementara,” pungkas Suparno.
Usulan tersebut masih memerlukan kajian teknis, termasuk penentuan lokasi, kapasitas tampungan, kondisi lahan, dan keterhubungan dengan sistem drainase yang ada. Penanganan terpadu diharapkan dapat menjadi dasar untuk merumuskan solusi banjir yang sesuai dengan kondisi Selili dan Sambutan.
(adv/gby)











