**Saharakaltim.com, Samarinda –** Keamanan fasilitas hotel, khususnya area yang berisiko bagi anak-anak, menjadi sorotan menyusul meninggalnya RK, bocah perempuan berusia tiga tahun yang terjatuh dari balkon lantai lima Hotel Mesra Samarinda.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai insiden tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi pengelola hotel sekaligus pengingat bagi orangtua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak saat berada di lingkungan yang memiliki potensi bahaya.
Sri Puji menyampaikan duka cita atas meninggalnya korban. Ia menegaskan, anak-anak usia dini belum mampu memahami risiko di sekitarnya sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat dari orang dewasa.
“Saya turut berduka atas kejadian ini. Tentu ini menjadi perhatian kita bersama, terutama bagi orangtua agar selalu mengawasi anak-anaknya, apalagi ketika berada di lingkungan yang memiliki risiko membahayakan keselamatan mereka,” kata Sri Puji, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, orangtua perlu lebih waspada ketika membawa anak ke bangunan bertingkat, terutama di area balkon maupun lokasi yang memiliki akses langsung ke bagian luar bangunan.
“Anak-anak usia dini belum memahami bahaya di sekitarnya. Karena itu, pengawasan orangtua sangat penting. Jangan sampai lengah, sebab kita tentu tidak ingin kejadian seperti ini terulang dan menimpa anak-anak lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, Sri Puji mengingatkan pengelola hotel agar tidak mengabaikan aspek keselamatan fasilitas. Pemeriksaan terhadap pagar pembatas, pintu balkon, akses keluar, dan perangkat pengamanan lainnya dinilai penting untuk mencegah potensi kecelakaan.
“Kejadian ini juga perlu menjadi bahan evaluasi bagi pengelola hotel di Samarinda. Keamanan area hotel, khususnya balkon dan tempat-tempat yang berisiko bagi anak, harus benar-benar diperhatikan agar keselamatan para tamu tetap terjaga,” tambahnya.
Ia berharap evaluasi keselamatan dilakukan secara berkala dan menjadi prosedur tetap dalam pengelolaan hotel. Dengan demikian, upaya perlindungan terhadap pengunjung tidak hanya dilakukan setelah terjadi insiden, tetapi juga melalui pencegahan sejak dini.
Adapun peristiwa tragis tersebut terjadi pada Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 08.30 WITA. Berdasarkan keterangan awal Polsek Samarinda Ulu, korban berada di kamar nomor 5101 bersama adiknya ketika kedua orangtuanya sedang sarapan di restoran hotel.
Polisi menemukan pintu yang mengarah ke balkon kamar dalam keadaan terbuka dan tidak terkunci saat pemeriksaan awal. Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab korban terjatuh.
Korban ditemukan di area parit halaman hotel. Ayah korban bergegas menuju lokasi setelah mendengar teriakan dari arah luar hotel. Sekitar pukul 09.30 WITA, personel Inafis Polresta Samarinda melakukan olah TKP. Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda pada pukul 10.18 WITA untuk pemeriksaan awal.
Kepolisian telah meminta keterangan dari kedua orangtua korban, petugas keamanan, serta karyawan hotel. Penyidik masih mendalami kronologi kejadian, termasuk kemungkinan adanya unsur kelalaian atau dugaan tindak pidana lain.
Hingga saat ini, penyebab pasti insiden tersebut belum diumumkan. Penyelidikan masih berjalan untuk memastikan rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban terjatuh.
Tragedi ini menegaskan pentingnya sinergi antara pengawasan orangtua dan tanggung jawab pengelola fasilitas publik. Keamanan lingkungan harus menjadi perhatian serius agar anak-anak dan seluruh pengunjung terlindungi dari risiko yang dapat dicegah.
(adv/gby)








