**Saharakaltim.com, Samarinda -** Langit Kaltim yang tak kunjung menurunkan hujan di tengah kemarau panjang mulai membawa konsekuensi serius. Ratusan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat di berbagai daerah, sementara ancaman kekeringan diperkirakan masih membayangi. Situasi ini membuat Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Samarinda sekaligus Wakil Ketua Komisi III, Arif Kurniawan, menyerukan dua ikhtiar sekaligus: mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui salat istisqa dan memperkuat langkah pencegahan karhutla.
Arif mendorong Pemerintah Kota Samarinda berkolaborasi dengan MUI untuk segera menggelar salat istisqa. Menurutnya, momentum tersebut bukan hanya menjadi sarana memohon turunnya hujan, tetapi juga mengajak masyarakat melakukan introspeksi dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Ketika kondisi alam mulai kering dan hujan belum turun, kita perlu bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan,” kata Arif, Sabtu (22/8/2026).
Seruan itu muncul di tengah meningkatnya angka karhutla di Kaltim. BPBD Kaltim mencatat 329 kejadian karhutla hingga 18 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 134 kejadian berlangsung pada dua pekan pertama Agustus.
Dampaknya juga tidak kecil. Hingga 11 Agustus 2026, total area yang terdampak karhutla tercatat mencapai 1.287,93 hektare. Kawasan hutan menjadi wilayah terdampak terbesar dengan luas 831,50 hektare, disusul lahan terbuka 443,62 hektare dan perkebunan 12,81 hektare.
Melihat kondisi tersebut, Arif ingin gerakan salat istisqa diperluas hingga seluruh wilayah Kaltim. Ia berharap pemerintah daerah, MUI dan masyarakat dapat mengambil langkah bersama menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla.
“Kalau memungkinkan, seluruh pemerintah daerah di Kalimantan Timur bersama MUI dan masyarakat bisa melaksanakan salat istisqa. Ini menjadi ikhtiar kita bersama,” ujarnya.
Meski demikian, Arif menegaskan bahwa meminta hujan tidak boleh berhenti pada doa. Upaya tersebut harus dibarengi dengan mitigasi konkret, mulai dari meningkatkan pengawasan kawasan rawan karhutla hingga mencegah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Doa harus disertai ikhtiar. Kita memohon hujan kepada Allah, tetapi kita juga punya kewajiban menjaga lingkungan, tidak membakar lahan, mengurangi kerusakan hutan dan menjaga sumber air,” tegasnya.
Arif pun mengajak masyarakat Kaltim menghadapi kemarau panjang dengan memperkuat kepedulian sosial dan lingkungan. Menurutnya, memperbanyak istighfar, menjaga sumber air, mencegah pembakaran lahan dan membangun solidaritas merupakan bagian dari ikhtiar bersama agar Kaltim mampu melewati kondisi kekeringan dengan dampak seminimal mungkin. (adv/gby)









